Tiba bisa
di pungkiri lagi bahwa kondisi masyarakat sekarang ini sudah saat saat jauh
dari norma-norma yang telah di gariskan oleh agama islam , semakin terpuruk dan
rusak moral anak-anak bangsa ini, semakin bodoh dan tidak faham atas apa yang
mereka lakukan yang sangat bertentangan dengan aturan-aturan agama ini, hal
tersebut di “HILANGNYA RASA MALU”.
Sebaimana yang
sama-sama kita amati, dan kita perhatikan bahwa Negara ini benar-benar telah
berada dalam kondisi yang sangat genting, dan jikalau di ibaratkan sebagai
sebuah pertandingan sepak bola, Negara kita ini sudah tertinggal 10 goal dan waktu
yang tersisan hanya 10 menit. Sebuah penggambaran secara general mengenai
kondisi negeri kita tercinta ini. Telalu banyak penyebab terjadinya kesalahan
dalam system ketatanegaraan kita. Penulis saat ini tidak terlalu banyak akan
bercerita mengenai mengapa bobroknya system kita, melainkan penulis di sini
akan menitik beratkan mengenai HILANGNYA BUDAYA MALU sekarang ini.
Saat-saat
sekarang ini kita tidak perlu heran jika masyarakat dan khususnya umat islam
sekalipun dengan enteng dan mudahnya suka melakukan prilaku-prilaku yang sangat
menyimpang, seperti minum khamar, mencuri, bahkan prilaku yang paling bejat
sekalipun yakni free-sex ( berzina).
Hal ini sebagaimana yang di sampaikan oleh Al-Akh Idrus Salim Al-Jufrie pada Kajian rutin Mahasiswa yang di adakan setiap ba'da Shalat Jum'at lalu yang bertempat di Masjid sultan haji ahmad syah International Islamic University Malaysia. dalam kesempatan ini beliau menjelaskan mengenai rasa malu dan keimanan yang sesuai dengan penjelasan hadist arbain yang ke 20 berbunyi :
Hal ini sebagaimana yang di sampaikan oleh Al-Akh Idrus Salim Al-Jufrie pada Kajian rutin Mahasiswa yang di adakan setiap ba'da Shalat Jum'at lalu yang bertempat di Masjid sultan haji ahmad syah International Islamic University Malaysia. dalam kesempatan ini beliau menjelaskan mengenai rasa malu dan keimanan yang sesuai dengan penjelasan hadist arbain yang ke 20 berbunyi :
عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بِنْ عَمْرٍو الأَنْصَارِي الْبَدْرِي رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
[رواه البخاري ]
Terjemah hadits / ترجمة الحديث :
Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al Anshary Al Badry radhiallahuanhu dia berkata: Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya ungkapan yang telah dikenal orang-orang dari ucapan nabi-nabi terdahulu adalah : Jika engkau tidak malu perbuatlah apa yang engkau suka
(Riwayat Bukhori)
Beliau menjelaskan bahwa sesungguhnya malu itu merupakan
identitas keaslian seorang muslim dan muslimat, karena malu itu yang akan
menjadi pengawas kita sebelum bertindak melakukan sesuatu. Dan beliau pun
menjelaskan bahwa rasa malu itu ibarat rem
kendaraan yang sangat ampuh dalam mengontrol arah kemana kendaraan kita. Dan Sekiranya tidak ada rasa malu pada diri kita,
tentu apa yang diisyaratkan hadis di atas akan benar-benar terjadi. Kita akan
melakukan apa saja yang diinginkan tanpa kekangan dan rasa takut sama sekali.
Kalau sudah seperti itu, maka berbagai penyelewengan dan penyimpangan tentu
akan dilakukan tanpa adanya perasaan bersalah.
Bahkan mungkin, berbagai penyimpangan dikemas dalam tampilan
yang soleh dan agamis. Tanpa adanya rasa malu, apa yang tidak layak menjadi
pantas, dan apa yang terlarang menjadi boleh dan dipandang baik. Tuntunan
menjadi tontonan, dan sebaliknya tontonan menjadi tuntunan. Sungguh potret
kehidupan realita sekrang yang sangat memprihatinkan kita semua.
Alangkah indah sekiranya kaum Muslimin memilika rasa
malu yang kuat, sehingga rasa malu itu menjadi penuntun kearah perilaku yang
mulia. Setiap kali bisikan-bisikan buruk menggoda, maka akan kita katakan, “Sungguh
saya malu pada Allah untuk berbuat yang semacam ini.”sebagaimana yang di jelaskan
oleh ustad idrus salim al-jufri terebut.
Dan sekarang lah saatnya kita harus menjadikan malu itu
menjadi budaya yang harus selalu dijaga dan dipelihara, baik oleh individu,
kelompok, terlebih bangsa ini. Kita sadari betapa tidak berhentinya petaka,
bencana, yang melanda bangsa ini mungkin salah satunya diakibatkan oleh
hilangnya rasa malu.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, penulis teringat akan sebuah
diskusi singkat dengat seorang DR ahli yang telah lumayan lama meninggalkan
Indonesia hijrah dan menetap di Malaysia, singkat cerita, ketika penulis
bertanya sebenarnya apa penyebabnya jatuhnya dan bobroknya pemerintahan Negara kita
tercinta ini ? sebenarnya siapa biang kerok kehancurannya ?
Sambil tersenyum beliau menjawab dengan nada yang sangat
menyakinkan yaitu hilangnya rasa malu itu.
Seorang penguasa merasa malu jika tidak
memberikan pelayanan terbaiknya kepada rakyat. Kekuasaan yang dimilikinya
sangat terbatas oleh ruang dan waktu. Namun, kekuasaan Allah SWT bersifat
kekal. Ketakutannya kepada Allah SWT mendorongnya untuk berbuat adil dan
bijaksana. Semua akan ditanyakan di alam akherat tidak tersisa bab sekecil
apapun.
Seorang pejabat merasa malu jika menyelewengkan
kekuasaan terkait profesinya. Jabatannya merupakan amanah yang harus diemban.
Dia menjadi pejabat bukan karena kehebatannya, melainkan kepercayaan konstituen
kepadanya. Akan tetapi jika malu itu tidak berfungsi ? maka lihatlah sekarang.
Dan Seorang siswa yang apabila tahu nikmatnya
mencari ilmu tidak akan pernah malu dalam bertanya.karena siswa itu akan
berfikir Kenapa harus takut dan malu untuk memburu ilmu yang sedang dipelajari
?? Sebaliknya dia akan malu ketika ada bisikan-bisikan untuk mencontek atau
memberikan contekan juga.
Seorang wanita merasa malu mempertononkan auratnya pada
orang yang tidak memiliki hak atasnya. Dia berpikir bahwa ini merupakan karunia
Allah SWT yang harus dijaga sesuai aturan yang telah digariskan.
Hendaklah kita malu kepada Allah Ta’ala untuk bermaksiat
kepadanya, dan kalau pun sudah tidak malu kepada Allah Ta’ala, malu-lah kepada
malaikat sang pencatat, kalau pun tidak malu kepada malaikat, malu-lah kepada
manusia, kalau pun tidak malu kepada manusia, malu-lah kepada keluarga di
rumah, kalau pun tidak malu kepada keluarga, maka malu-lah kepada diri sendiri
dan hendaklah jujur bahwa apa yang dilakukannya adalah kesalahan, minimal
meragukan. Karena sesungguhnya wahai saudaraku bahwa fitrah keimanan akan
menolaknya, kecuali jika memang kita sudah tidak punya rasa malu.
Itu ceritaku…. Apa ceritamu….. ????

Tidak ada komentar:
Posting Komentar