Kurangnya
kepercayaan diri merupakan salah satu hambatan kesuksesan. Kurang PD sering
diekspresikan melalui perasaan, “Mampukah saya melakukannya?” atau “Saya tidak
cukup mampu”, “Saya tidak memenuhi syarat”, dan semacamnya. Ekspresi ini menggambarkan
ketidakpercayaan diri pelakunya.
Kurangnya
kepercayaan diri menyebabkan motivasi “sudah dipadamkan sejak awal”. Yakni
dengan berpikir negatif terlebih dahulu terhadap diri sendiri. Motivasi
membutuhkan “lahan” yang tepat untuk tumbuh. “Lahan” itu adalah kepercayaan
diri. Ada beberapa kiat praktis untuk meningkatkan rasa percaya diri di
antaranya: Prakarsai pembicaraan, Biasakan bicara terus terang, Memelihara
kontak mata, Berjalan lebih cepat, Berpenampilan rapi, Carilah
kemenangan-kemenangan kecil, Beri diri sendiri hadiah, Biasakan duduk di kursi
terdepan, Bergaulah dengan orang yang percaya diri, Simpan prestasi masa lalu,
Biasakan berbahasa positif.
Proses
merupakan lahannya sebuah usaha. Dan di sinilah ujian sesungguhnya dari apa-apa
yng kita inginkan. Agar proses dapat berjalan dengan konsisten ada beberapa
kiat yang bisa kita lakukan bila mana kita menemui kejenuhan dalam proses di
antaranya:
Pikiran dan orientasi kita selalu kepada pencapaian cita mulia. Selama kita selalu berpikir dan berorientasi kepada cara untuk
mencapai cita-cita mulia berarti kita tetap berada dalam kesuksesan. Tidak
peduli apakah kita memikirkannya di alam sadar atau di alam bawah sadar.
Bahkan sebenarnya ketika alam bawah sadar selalu berpikir untuk mencapai
cita-cita, hal itu menunjukkan kemapanan dan kekokohan dari orientasi kita
terhadap pencapaian cita-cita. Ini lebih baik. Sebab ketika alam bawah sadar
turut bekerja untuk mencapai cita-cita, energi tubuh kita akan bekerja secara
refleks membentuk kebiasaan-kebiasaan yang mendukung pencapaian cita-cita kita.
Prioritas kegiatan kita lebih banyak untuk mencapai
cita-cita mulia Anda tidak dikatakan sebagai orang yang selalu berpikir kepada
pencapaian cita-cita mulia jika waktu kita tidak diprioritaskan untuk mencapai
cita-cita tersebut. Indikatornya adalah seberapa lama kita mengorbankan waktu,
tenaga dan pikiran untuk mencapai cita-cita mulia jika dibandingkan apa yang kita korbankan untuk hal-hal lain di luar pencapaian cita-cita mulia kita. Semakin
lama waktu yang kita prioritaskan untuk pencapaian cita-cita mulia berarti
semakin sukseslah kita. Sebaliknya, semakin sedikit waktu yang kita berikan untuk
mencapai cita-cita mulia berarti semakin jauh dari kesuksesan. Di sini
dibutuhkan keberanian untuk mengatakan ‘tidak’ kepada setiap ajakan atau
tawaran beraktivitas di luar pencapaian cita-cita mulia. tetap harus fokus
kepada pencapaian cita-cita kita.
dan yang terakhir adalah Upaya kita mencapai cita-cita dilakukan dengan
cara-cara yang benar Tidak ada rumus menghalalkan segala cara untuk mencapai
cita-cita. Jika kita berhasil mencapai cita-cita tapi dengan cara melanggar
kebenaran universal, kita telah gagal sebelum berhasil mencapai cita-cita.
Hasil yang kita dapatkan bukanlah kesuksesan sejati, tapi kesuksesan semu.
tetap terus mencoba mencapai cita-cita walau gagal
berungkali Jika kita terus mencoba walau gagal berungkali untuk mencapai
cita-cita berarti kita tetap sukses. Kegagalan dalam mencapai cita-cita mulia
bukanlah kegagalan sesungguhnya. Ia merupakan takdir dan misteri Ilahi. Hal itu
berada di luar kendali manusia. Tugas manusia hanyalah berusaha semaksimal mungkin
dengan terus mencoba dan mencoba tanpa putus asa. Alexander Pope mengatakan:
“Semua orang tidak perlu malu karena berbuat kesalahan, selama ia menjadi lebih
bijaksana daripada sebelumnya.”
Penulis: Fahmi Syam Hafid _Sekjend Persatuan Pelajar Sulawesi Selatan Se Malaysia
Penulis: Fahmi Syam Hafid _Sekjend Persatuan Pelajar Sulawesi Selatan Se Malaysia


Tidak ada komentar:
Posting Komentar